spot_img
spot_img
Beranda OPINI Opini: Out Of Pocket (OOP) dalam Sistem JKN

Opini: Out Of Pocket (OOP) dalam Sistem JKN

0
21
Lulus Priyanto Penata Anestesi di RSGM Lakesgilutau sekaligus Mahasiswa Magister S2 Kesehatan Managemen Rumah Sakit, Universitas Indonesia Maju (UIMA).
BOGOR – JABAR || Jabar.Journalistpolice.com – Di era kesehatan modern seperti sekarang, akses layanan kesehatan menjadi hak dasar setiap warga negara.Di Indonesia, Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dikelola oleh BPJS Kesehatan telah menjadi pilar utama dalam mewujudkan Universal Health Coverage (UHC), namun  Out of Pocket masih menjadi pembahasan penting dalam sistem JKN.

Namun, ada satu istilah yang sering muncul dalam diskusi kesehatan: Out of Pocket (OOP). Apa itu OOP? Sederhananya, OOP adalah biaya kesehatan yang harus dibayar langsung oleh masyarakat dari kantong pribadi, di luar cakupan asuransi seperti JKN. Meski JKN telah menjangkau hampir seluruh penduduk, OOP masih menjadi bagian penting dalam pembiayaan kesehatan nasional.

Artikel ini akan membahas peran Out of Pocket dalam sistem JKN, dengan data terbaru, agar kita lebih memahami bagaimana sistem ini terus berkembang untuk kesejahteraan bersama.

BACA JUGA  Pemuda Persis Garut Berkomitmen Akan Terus Bergerak Dengan Strategi Yang Terencana Untuk Kebutuhan Umat Garut

Apa Itu Out Of Pocket dan Mengapa Penting dalam JKN?

Bayangkan Anda atau keluarga sakit dan berobat ke fasilitas kesehatan. Jika layanan tercover JKN, biaya utamanya ditanggung program ini. Tapi, terkadang ada tambahan seperti biaya transportasi, obat-obatan di luar paket, atau layanan tambahan yang harus dibayar sendiri itulah Out of Pocket.

Menurut data dari National Health Accounts (Rekening Kesehatan Nasional), Out of Pocket mencerminkan seberapa besar beban finansial yang masih ditanggung rumah tangga untuk kesehatan. Tujuannya sederhana: semakin rendah OOP, semakin baik perlindungan finansial bagi masyarakat, sehingga tidak ada yang jatuh miskin karena biaya medis.

BACA JUGA  Unit Laka Lantas Polresta Sukabumi Berhasil Mediasi Kasus Kecelakaan Lalu Lintas Secara Humanis

Sistem JKN dirancang untuk meminimalkan Out of Pocket ini. Sejak diluncurkan pada 2014, JKN telah menjadi program asuransi kesehatan terbesar di dunia dengan satu pembayar tunggal. Pada Agustus 2024, kepesertaan JKN mencapai 98,19% dari total populasi Indonesia, atau sekitar 270 juta jiwa.

Ini berarti hampir semua warga bisa mendapatkan layanan kesehatan dasar tanpa khawatir biaya besar. Namun, Out of Pocket tetap ada karena beberapa alasan, seperti kebutuhan layanan tambahan atau akses ke fasilitas swasta yang lebih cepat.

Data Terbaru: Tren Penurunan OOP di Tengah Pertumbuhan JKN

BACA JUGA  Ratusan Keluarga Supir Terancam Jadi Pengangguran di Sukabumi: 5 Fakta Mengejutkan Imbas Aturan Baru ESDM Jabar

Berdasarkan Laporan Kinerja Kementerian Kesehatan Tahun 2024, proporsi OOP terhadap total belanja kesehatan nasional menunjukkan tren positif. Pada 2014, saat JKN baru dimulai, Out of Pocket mencapai 43,7% dari total pengeluaran kesehatan.

Angka ini turun signifikan menjadi 28,6% pada 2023, dengan nilai nominal sekitar Rp175,5 triliun dari total belanja Rp614,5 triliun. Untuk 2024, realisasi Out of Pocket diperkirakan tetap di kisaran 28,6%, meski target pemerintah adalah 20%. Ini menandakan pencapaian 57% dari target, di mana porsi pembiayaan publik (termasuk JKN) naik menjadi 57,4%.

Mengapa ada penurunan? JKN berperan besar. Studi menunjukkan bahwa di daerah pedesaan timur Indonesia, JKN mengurangi Out of Pocket hingga 53%, sementara di perkotaan mencapai 43%. Proyeksi dari ReportLinker juga memperkirakan OOP akan terus turun menjadi 24,99% pada 2024 dan 22,47% pada 2028.

BACA JUGA  Opini: UIMA Jakarta Hadir Sebagai Rumah Baru Pendidikan Magister Kesehatan

Angka-angka ini menunjukkan bahwa JKN tidak hanya memperluas akses, tapi juga meringankan beban kantong masyarakat. Berikut adalah ringkasan tren Out of Pocket dalam bentuk tabel sederhana untuk memudahkan pemahaman:

Tahun Proporsi OOP (%) Total Belanja Kesehatan (Rp Triliun) Catatan
2014 43,7 324,6 Awal JKN, OOP tinggi
2023 28,6 614,5 Penurunan signifikan berkat JKN
2024 28,6 (realisasi) ~614,5 (perkiraan) Target 20%, terus menurun

Sumber: Laporan Kinerja Kemenkes 2024 dan National Health Accounts.

BACA JUGA  Mengubah Hidup Masyarakat Menengah ke Bawah, Sosok Bidan Hj. Euis Tjajah STr.Keb Hadir dan Peduli

 Tantangan OOP dan Peran JKN dalam Mengatasinya

Meski trennya membaik, OOP masih menjadi tantangan. Beberapa rumah tangga menghadapi biaya tambahan karena faktor seperti transportasi ke rumah sakit, obat di luar daftar JKN, atau layanan pencegahan yang belum sepenuhnya tercover. Selain itu, pasca-pandemi COVID-19, peningkatan akses layanan justru sementara menaikkan pengeluaran rumah tangga.

Di 2024, anggaran kesehatan negara direncanakan mencapai 5,6% dari total belanja negara, yang mendukung upaya ini. JKN hadir sebagai solusi utama. Melalui perluasan Penerima Bantuan Iuran (PBI) hingga 112,9 juta orang pada 2024, integrasi layanan seperti pengobatan HIV/AIDS, dan platform digital SATUSEHAT, JKN memastikan layanan lebih merata.

BACA JUGA  Dekan FKIP UNSIKA Sampaikan Pesan Inspiratif Jelang Natura 2025

Ada juga Asuransi Kesehatan Tambahan (AKT) yang menutupi biaya upgrade fasilitas, sehingga masyarakat bisa memilih layanan lebih nyaman tanpa beban ekstra. Pendidikan kesehatan masyarakat juga ditingkatkan untuk mendorong perilaku sehat, yang pada akhirnya mengurangi kebutuhan berobat.

Menuju Masa Depan dengan OOP yang Lebih Rendah

Sistem JKN membuktikan komitmen Indonesia untuk kesehatan yang adil dan terjangkau. Dengan kepesertaan mendekati 100% dan tren penurunan OOP, kita melihat kemajuan nyata. Namun, perjalanan ini memerlukan partisipasi semua pihak: peserta JKN yang rajin membayar iuran, fasilitas kesehatan yang efisien, dan masyarakat yang sadar akan pencegahan.

BACA JUGA  Kecelakaan Tunggal di Depan Alfamart DC Cianjur, Pengendara Tanpa Identitas Alami Luka Serius dan Dilarikan ke RS Sayang

Di akhir 2025, dengan dukungan anggaran Rp20 triliun untuk BPJS Kesehatan, diharapkan OOP bisa mendekati target 20% atau lebih rendah. Mari kita dukung JKN sebagai benteng perlindungan kesehatan. Dengan begitu, setiap keluarga bisa tenang menjalani hari-hari tanpa khawatir biaya tak terduga. Kesehatan adalah investasi, dan JKN adalah mitra terbaik kita dalam hal itu.

Kesimpulan

Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) telah berhasil menurunkan beban Out of Pocket dari 43,7% (2014) menjadi sekitar 28,6% (2023–2024) dan terus bergerak menuju target di bawah 25% dalam beberapa tahun mendatang. Meski masih ada biaya pribadi untuk layanan tambahan atau kebutuhan khusus, tren ini menunjukkan bahwa perlindungan finansial kesehatan bagi masyarakat Indonesia semakin kuat.

BACA JUGA  Pemerintah Kelurahan Cimuncang Gerak Cepat Tangani Longsor, Alhamdulillah Tidak Ada Korban Jiwa

Dengan kepesertaan hampir 100%, perluasan PBI, dan inovasi layanan, JKN tetap menjadi solusi utama agar tidak ada lagi keluarga yang jatuh miskin hanya karena sakit. Mari kita terus mendukung dan memanfaatkan JKN dengan baik karena kesehatan yang terjangkau adalah hak kita semua.

( Hendra Kurniawan FKPK-RI Sukabumi ) 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini