
Oleh: Netta Effianty, S.Kep., Ners. Tenaga Kesehatan / ASN RSUD Al Mulk Kota Sukabumi
SUKABUMI – JABAR || Jabar.Journalistpolice.com – Hipertensi atau tekanan darah tinggi dikenal sebagai “silent killer” karena sering hadir tanpa gejala, namun dapat berujung pada komplikasi serius seperti stroke, gagal jantung, hingga kematian. Di Kota Sukabumi, penyakit ini masih menjadi ancaman nyata bagi kesehatan masyarakat.
Data tahun 2024 mencatat 3.780 kasus baru hipertensi dengan 95 kasus kematian. Sementara hingga pertengahan tahun 2025, masih tercatat 2.285 kasus baru. Tingginya angka tersebut menjadi sinyal bahwa upaya edukasi dan penyuluhan kesehatan yang selama ini dilakukan perlu diperkuat dengan pendekatan yang lebih inovatif dan mampu menyentuh perubahan perilaku masyarakat secara lebih efektif.
Sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) sekaligus tenaga kesehatan di RSUD Al Mulk Kota Sukabumi, saya mendukung penuh pemanfaatan media digital audiovisual sebagai bagian dari transformasi edukasi kesehatan. Di era digital yang serba terhubung, metode penyuluhan konvensional sering kali kurang menarik dan sulit mempertahankan perhatian masyarakat.
Melalui media audiovisual yang menggabungkan suara, gambar, teks, dan gerak, informasi kesehatan yang kompleks dapat disampaikan dengan bahasa yang lebih sederhana, menarik, dan mudah dipahami oleh semua kalangan, baik anak muda, orang dewasa, maupun lansia dengan latar belakang pendidikan yang beragam.
Pengalaman penelitian yang saya lakukan di wilayah Puskesmas Selabatu menunjukkan hasil yang menggembirakan. Kombinasi edukasi audiovisual dengan pendekatan berbasis komunitas terbukti mampu meningkatkan pengetahuan masyarakat secara signifikan dan mendorong perubahan perilaku hidup sehat dalam upaya pencegahan serta pengendalian hipertensi.
Dalam pendekatan ini, masyarakat tidak lagi hanya menjadi objek penerima informasi. Mereka dilibatkan secara aktif bersama kader kesehatan, tokoh masyarakat, dan lingkungan sekitar, sehingga pesan kesehatan lebih mudah diterima dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Sudah menjadi kewajiban tenaga kesehatan untuk terus berinovasi dan beradaptasi dengan perkembangan zaman. Tingginya angka hipertensi di Sukabumi menuntut perhatian serius dari semua pihak. Menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat hipertensi bukan hanya tugas institusi kesehatan, tetapi juga tanggung jawab moral seluruh ASN dan elemen masyarakat.
Karena itu, mari kita manfaatkan kemajuan teknologi secara bijak dengan tetap menyesuaikannya pada budaya dan kearifan lokal Sukabumi. Dengan penyampaian pesan kesehatan yang tepat, mudah dipahami, dan dekat dengan kehidupan masyarakat, kita dapat mendorong perubahan nyata menuju masyarakat Kota Sukabumi yang lebih sehat dan lebih sadar akan pentingnya pencegahan hipertensi.




